Home » Belajar Forex » Rahasia Sukses Trading Ditinjau dari Perspektif Ilmu Pikiran

Rahasia Sukses Trading Ditinjau dari Perspektif Ilmu Pikiran

Belajar Forex Malang | Rahasia Trading Forex | Belajar Forex 2015

Beberapa waktu lalu saya jumpa seorang kawan lama. Setelah diskusi ngalor-ngidul kami sampai pada diskusi mengenai bisnis dan investasi. Kawan saya ini lagi semangat sekali menjalani trading. Ia bercerita apa saja yang telah ia lakukan, yang telah ia capai, dan juga situasi terakhir yang ia alami.

Singkat cerita, kawan saya ini, mengeluhkan kinerjanya di bidang trading yang menurun drastis hingga beberapa kali mengalami kerugian dalam jumlah yang lumayan. Sebelumnya, ia telah mendapat untung yang cukup besar. Tapi sekarang, sepertinya dewi Fortuna telah berpaling darinya dan ia lebih sering merugi daripada untung. Apa yang sebenarnya terjadi?

Trading adalah satu bentuk kegiatan yang sangat menarik. Benar, kita bisa menghasilkan uang banyak dan juga bisa rugi besar. Berikut ini adalah intisari diskusi kami. Saya tidak akan masuk ke teknik melakukan trading. Penjelasan saya lebih pada rahasia sukses trading dari sudut ilmu pikiran.

Untuk bisa sukses trading maka kita perlu tahu apa saja yang membuat orang gagal. Dengan mengatasi atau menghilangkan penyebab kegagalan maka kita akan bisa berhasil.

Ada beberapa alasan orang gagal dalam melakukan trading. Saya akan menjelaskan poin-poin penting yang saya temukan, baik dari pengalaman pribadi maupun dari kasus yang dialami klien-klien saya. Besar harapan saya informasi dalam artikel ini bisa menginspirasi rekan-rekan yang biasa melakukan trading sehingga bisa semakin sukses.

Di buku Quantum Life Transformation saya menjelaskan bahwa untuk sukses dibutuhkan dua komponen yaitu God Factor dan Human Factor. Saya menuliskannya menjadi rumus: God Factor X Human Factor = Success.  Saya tidak membahas God Factor karena ini di luar ranah keilmuan saya. Selain itu, relasi kita dengan Tuhan / Allah sifatnya sangat personal. Dalam kesempatan ini saya hanya akan membahas Human Factor yang terdiri atas BE dan DO.

Berikut ini adalah faktor penghambat sukses di bidang trading yang saya temukan dalam diri klien-klien saya.

Minim Pengetahuan dan Skill

Trading, sama seperti kegiatan usaha lainnya membutuhkan pengetahuan dan kecakapan agar bisa menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan. Banyak trader yang  menipu diri sendiri dengan mengaku sebagai investor padahal mereka sebenarnya gambler atau penjudi

Seorang investor punya pengetahuan yang mendalam mengenai tradingmarket, mampu melakukan analisis tidak hanya analisis statistik tapi juga fundamental. Investor punya strategi yang jelas, terukur, dan biasanya bermain dalam jangka menengah dan panjang. Investor tahu benar kapan masuk dan keluar dari pasar.

Gambler masuk dan keluar dari pasar hanya berdasar feeling. Kalau pas lagi nasib baik,gambler akan mendapat untung besar. Kalau pas lagi apes… ya rugi besar. Seringkali gambler hanya ikut-ikutan dan tidak tahu alasan mengapa ia masuk atau keluar dari market.

Dari mana seseorang bisa mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bisa melakukan trading dengan hati-hati, cermat, terukur, dan untung? Bisa belajar sendiri atau mengikuti pelatihan.

Kriteria Trainer yang Kompeten

Bila Anda memutuskan untuk memperoleh pengetahuan melalui pelatihan maka beberapa saran berikut patut mendapat perhatian serius. Mengapa? Karena trading menggunakan uang sungguhan, bukan uang mainan. Jadi, kalau rugi, Anda yang akan kehilangan uang, bukan trainer. Kerugian ini bisa sangat besar dan seharusnya tidak perlu terjadi bila kita tahu cara bermain yang cantik.

Langkah awal untuk memilih trainer adalah dengan mencari-tahu rekam jejak atau track record si trainer, bisa melalui Google atau dari alumni pelatihannya. Jangan mudah terpengaruh dengan iming-iming pasti untung. Bila trainer ini menjamin atau menjanjikan pasti selalu untung, jangan ikut pelatihannya karena tidak mungkin kita selalu untung. Namun sayangnya masyarakat umumnya kurang cermat atau kritis. Mereka sangat suka dan tanpa pikir panjang mengikuti pelatihan yang menjanjikan pasti untung dalam jumlah besar dan konsisten. Banyak yang kecewa karena setelah mempraktikkan apa yang dipelajari di pelatihan, yang katanya pasti untung besar dan konsisten, ternyata malah banyak yang buntung besar dan konsisten.

Cara lain adalah dengan meminta trainer menunjukkan rekam jejak trading yang ia lakukan. Dalam hal ini trainer perlu membuka account-nya dan menunjukkan secara livepada peserta pelatihannya. Akan sangat baik bila ia dapat menunjukkan aktivitas tradingnya selama dua atau tiga tahun terakhir. Dari sini kita akan tahu dan yakin bahwa pengetahuan, teknik, atau protokol yang ia gunakan benar-benar bisa menghasilkan keuntungan seperti yang ia janjikan. Dengan kata lain trainer ini punya rekam jejak yang proven.

Trial and Error

Ini yang paling sering dilakukan oleh trader pemula. Bila diperhatikan dengan cermat semantik trial and error secara jelas menunjukkan apa yang akan didapat oleh pelakunya. Pertama, trial atau coba dulu. Setelah itu akan error atau rugi. Saran saya, jangan pernah melakukan trial and errordi dunia trading. Bila Anda ingin melakukantrading pastikan Anda punya pengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan untuk mendapat keuntungan.

Fokus Pada Loss, Baru Setelah itu Profit

Ini sepertinya bertentangan dengan prinsippositive thinking atau hukum pikiran yang biasa saya ulas di berbagai artikel saya. Benar, kita perlu fokus pada hal-hal positif. Dalam trading, saat Anda fokus pada loss atau kerugian maka sebenarnya Anda fokus pada hal positif.

Anda mungkin tidak setuju dengan pernyataan saya di atas. Baik, saya akan ceritakan apa maksud saya. 

Umumnya orang akan fokus pada keuntungan atau profit. Semakin mereka fokus pada untung maka semakin hilang kewaspadaan mereka. Trader yang baik memahami benar bahwa trading mengandung potensi yang sangat besar, baik potensi untung maupun rugi.

Untuk itu, yang perlu diperhatikan di awal adalah me-manage risiko. Bila kemungkinan atau potensi yang mungkin mengakibatkan kerugian bisa diantisipasi atau diminimalkan, tidak mungkin dihilangkan, maka keuntungan bisa dengan mudah didapat.

Tidak Mengenali Karakter Diri

Trading, walaupun sangat menjanjikan, tidak cocok untuk semua orang. Untuk itu setiap trader, sebelum melakukan trading, perlu memahami siapa dirinya. Trader bisa melakukan tes Investor Risk Profile untuk mengetahui karakter mereka, apakah masuk tipe agresif, moderat, atau konservatif. Dari sini baru ditentukan jenis instrumen investasi yang sesuai dengan karakternya.

Dari hasil tes ini akan diketahui tingkat kemampuan penerimaan seseorang terhadap kerugian. Ada yang kuat atau sanggup menerima kerugian signifikan dengan kompensasi keuntungan yang (sangat) besar. Ada yang tahan bila ruginya tidak terlalu besar. Ada yang tidak bisa menerima walau rugi hanya sedikit.

Dikuasai Perasaan Takut dan Serakah

Ini adalah dua emosi dasar yang menguasai manusia. Seseorang memilih melakukantrading pasti berharap mendapat untung. Kalau bisa untung sebesar-besarnya. Ini namanya serakah. Di sisi lain ia takut bila rugi. Jadi, setiap kali masuk ke pasar dua perasaan ini selalu menghantui dan menguasai pikirannya.

Dan yang kita tahu, saat emosi bergejolak maka logika tidak bisa bekerja dengan baik. Semakin intens emosi seseorang, apapun emosinya, maka semakin tumpul logikanya.

Saat posisi sudah untung umumnya trader tidak segera memutuskan untuk keluar dan memetik untungnya. Mereka masih terus menunggu… dan menunggu… dan berharap bisa untung semakin besar. Biasanya di titik inilah pasar berbalik arah. Saat keuntungan mulai berkurang… semakin menurun… biasanya mereka akan masih positive thinking dan berharap kondisi ini akan berbalik lagi. Dan akhirnya… mereka rugi.Positive thinking dalam duniatrading, apa lagi yang berlebih, adalah hal yang sangat negatif dan perlu dihindari.

Untuk itu trader perlu menentukan cukupnya berapa. Jadi, bila posisi sudah menguntungkan bisa langsung keluar dan mendapat untung. Setelah itu tidak perlu lagi memikirkan apakah kondisi pasar terus membaik, meningkat, atau menurun. Yang penting sudah dapat untung. 

Ada beberapa alasan mengapa trader takut rugi:

– ia tidak siap secara mental

– uang yang dipakai main adalah uang pinjaman, uang orangtua, uang kredit, uang hasil menggadaikan sesuatu, uang tabungan, uang untuk keperluan tertentu. Intinya bukan uang menganggur.

– ia memilih trading sebagai jalan pintas untuk menghasilkan uang yang akan digunakan untuk membayar utang atau kewajiban lainnya. 

Mengapa Virtual Trading Untung, Kalau Main Beneran Rugi?

Ini juga yang sangat sering dialami trader. Saat melakukan virtual trading biasanya mereka bisa untung (banyak). Setelah merasa yakin dan mampu, karena sering untung divirtual trading, mereka masuk ke pasar dan bermain dengan uang sungguhan. Apa yang terjadi? Ternyata mereka mengalami kerugian.

Lha, kok bisa? Iya, karena saat virtual trading pikiran dan perasaan mereka tenang. Mereka tahu bahwa kalaupun rugi maka ini hanya simulasi belaka, bukan kondisi riil. Namun saat mereka melakukantrading yang sesungguhnya, dan mempertaruhkan uang sungguhan, perasaan mereka akan selalu dipenuhi perasaan takut rugi.

Sesuai dengan hukum pikiran, semakin seseorang fokus pada satu hal, baik itu positf maupun negatif, maka ia akan mendapatkan apa yang menjadi fokusnya. Semakin ia takut rugi maka ia akan semakin rugi. Seperti ada tertulis, “Apa yang kutakutkan, itu yang  menimpa diriku.”

Kondisi Mental Tidak Kondusif

Kondisi mental yang tidak kondusif saat masuk ke pasar atau menetapkan posisi akan berpengaruh negatif terhadap hasil yang dicapai. Misal, lagi ada masalah atau kurang sehat. Sebaiknya saat masuk ke pasar atau melakukan analisis, pikiran dan perasaan benar-benar tenang dan tidak terganggu. Tidak boleh ada telpon, kunci pintu kamar. Saat melakukan analisa kondisi pasar dan memutuskan kapan masuk semuanya harus dilakukan dengan pikiran yang benar-benar tenang. Akan sangat baik bila steril dari emosi apapun.

Mindset Ingin Selalu Untung

Ini mindset yang salah. Banyak trader, atau yang lebih tepatnya adalah gambler, yang hanya mau untung dan tidak siap rugi. Mentalitas seperti ini adalah penghambat utama dalam sukses trading. Mindset yang benar adalah dalam melakukan tradingbisa untung dan rugi. Ini adalah hal yang biasa. Yang penting adalah lebih sering profit daripada loss.

Mental Block

Saya pernah membantu seorang trader yang telah berhasil profit US$ 10.000. Namun setelahnya ia rugi terus. Setiap kali mau masuk ke pasar ia selalu merasa sangat tidak nyaman. Dan bila ia paksakan main, hasilnya selalu rugi.

Setelah saya bantu cari apa masalahnya ternyata ada Bagian Diri yang tidak setuju atau mengijinkan ia untung besar. Bagian Diri ini hanya mengijinkan ia punya penghasilan Rp. 5 juta sebulan. Setelah Bagian Diri ini diproses barulah ia bisa trading dengan perasaan nyaman dan untung.

Tidak Memberi Reward Diri Sendiri

Ini juga pernah terjadi pada seorang klien saya. Ia sangat lihay trading. Sering untung besar. Namun akhirnya ia mengalami hambatan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia sering salah dalam kalkulasi dan membuat keputusan.

Singkat cerita, saat saya bantu dan proses di pikiran bawah sadarnya barulah terungkap bahwa ada Bagian Diri yang marah karena klien ini tidak pernah memberi hadiah untuk dirinya sendiri. Bagian Diri yang marah ini rupanya punya pengaruh yang cukup besar dalam dirinya sehingga memblok Bagian yang biasanya melakukan trading. Dengan kata lain klien mengalami sabotase diri.

Tidak Transfer ke Rekening di Indonesia

Umumnya para trader membuka accountdi luar negeri. Mereka melakukan tradingdan bila untung keuntungannya langsung dikreditkan ke rekening mereka di luar negeri. Satu hal yang sering tidak disadari atau diketahui orang yaitu saat uang ini masih di rekening luar negeri maka pikiran bawah sadar menganggap ini bukan miliknya. Uang ini akan terus digunakan untuk trading, bisa bertambah bila untung dan bisa berkurang bila rugi. Dengan demikian pikiran bawah sadar tidak merasa memiliki uang ini. Cepat atau lambat ia bisa marah dan melakukan sabotase.

Yang perlu dilakukan adalah bila profit, sebagian keuntungan perlu ditarik balik ke Indonesia. Selama masih di rekening di luar negeri , secara psikologis, ini belum uang milik sendiri. Uang ini baru akan dirasakan menjadi “milik sendiri” bila sudah masuk rekening di Indonesia.

Tidak Punya Tujuan yang Jelas

Dalam melakukan satu kegiatan atau tindakan kita perlu memiliki tujuan yang jelas dan spesifik. Trading adalah salah satu cara untuk menghasilkan uang. Dan yang lebih penting sebenarnya bukan sekedar menghasilkan profit namun apa yang akan dilakukan dengan profit ini. Pikiran bawah sadar akan bekerja keras membantu seseorang mencapai goal yang personal dan bermakna.

Dikutip Dari : Bapak Adi W Gunawan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: